Langsung ke konten utama

Indonesia’s Economy Set to Fly Like An EAGLE



Indonesia has become a favorite of international investors in recent years. As evidence of this, portfolio and foreign direct investment flows have been on the rise and the economy continues to receive upgrades by major rating agencies, placing it only one notch away from coveted investment grade status.
The favorable attention Indonesia is attracting owes to the economy’s strong medium-term growth prospects and its resilience to external shocks. These positives, in turn, are due to a combination of structural factors that have helped insulate the economy from recent global downturns, implementation of sound macroeconomic policies, and fostering of a stable political environment. Keys to investor optimism include ongoing efforts to upgrade and deepen Indonesia’s lagging infrastructure, policies to reduce corruption and promote good governance, and steps to strengthen institutions.
Progress is being made in all of these areas, though much remains to be done to unlock Indonesia’s vast growth potential over the medium term. Indonesia’s strong prospects are representative of a sea change that has taken place during the past two decades in investor perceptions toward emerging markets more generally. Indeed, negative and static adjectives such as “under-developed” that were once commonly used for these countries have been replaced with “emerging” to describe the dynamic nature of their economies, where higher growth is bringing rapid convergence to the income per capita of rich countries. Given the large populations of emerging markets including Indonesia—the world’s fourth most populous country and largest in Southeast Asia—the emergence of such economies should bring huge business opportunities for investors serving those markets. One of the key factors for this longterm trend in favor of emerging markets is better population dynamics than in the developed world, and higher investment in physical capital driven by urbanization and industrialization.
In addition, although investment in human capital is lower than in the developed world on average, the difference is narrowing rapidly; the same is true for expenditure on research and development and the quality of the institutions.
These three factors, which had long explained the edge that the developed world maintained against the rest, will also be supporting the convergence of the emerging world. In the remainder of this paper, we present a study undertaken by BBVA Research on a set of EAGLE economies — Emerging and Growth-Leading Economies — to demonstrate the potential of our favorite emerging markets. This research points to an important structural change in the global economy in which a handful of emerging markets will lead growth in the world economy. Indonesia’s “Garuda economy” is one of the EAGLEs and, indeed, it has earned a place high on the list. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal PSAK Seven Series ( PSAK 71, 72, 73 )

Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) telah merilis tiga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) baruKetiga PSAK itu memiliki poin masing-masing. PSAK 71 misalnya mengatur mengenai instrumen keuangan, PSAK 72 mengatur mengenai pendapatan dari kontrak dengan pelanggan dan PSAK 73 mengatur mengenai sewa. Berikut adalah detail perubahan yang harus diadopsi berdasarkan masing-masing PSAK tersebut.  PSAK 71 ( IFRS 9 ) Selain soal klasifikasi aset keuangan, salah satu poin penting PSAK 71 adalah soal pencadangan atas penurunan nilai aset keuangan yang berupa piutang, pinjaman, atau kredit. Standar baru ini mengubah secara mendasar metode penghitungan dan penyediaan cadangan untuk kerugian akibat pinjaman yang tak tertagih. Jika berdasarkan PSAK 55, kewajiban pencadangan baru muncul setelah terjadi peristiwa yang mengakibatkan risiko gagal bayar ( incurred loss ), PSAK 71 memandatkan korporasi menyediakan pencadangan sejak awal periode kredit. Kini, dasar pencadangan adalah ekspe...

Serba-Serbi Mengenai Perekonomian Israel

Bahasan Mengenai Perekonomian Israel Israel adalah sebuah Negara di Timur Tengah yang dikelilingi Laut tengah , Lebanon , suriah ,yordania ,mesir dan gurun pasir Sinai .Selain itu dikelilingi pula dua daerah otoritas palestina ,Jalur Gaza dan Tepi barat . Dengan populasi sebesar 7,5 juta jiwa, Israel merupakan satu-satunya negara etnis yahudi di dunia. Israel dianggap sebagai salah satu negara termaju di Asia Barat Daya dalam hal pembangunan ekonomi dan industri. Negara ini menduduki peringkat nomor 3 di kawasan tersebut menurut  Bank Dunia   . Israel sendiri saat ini memiliki peringkat PDB ( Produk Domestik Bruto ) ke-44 dan pendapatan per kapita penduduknya ke-22 di dunia . Tentu saja hal ini sangat luar biasa bagi sebuah negara yang memiliki sumber daya alam yang terbatas dan bahkan tanah Israel mereka pun dahulu tidak sebesar saat ini , yakni hanya pemberian dari kerajaan Inggris dan dari kebijakan resolusi PBB pada 11 Mei 1949 . dibalik semua i...

Kebijakan Moneter dan Perbankan Indonesia

Kebijakan moneter Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi,  mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera . Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga pinjaman , " margin requirement ", kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain. Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memul...